Kepastian Kebangkitan dan Kesempurnaan Sifat Allah

وَهُوَ ٱلَّذِى يَبْدَؤُا۟ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ٢٧
“Dan Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat Yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. ar-Rum [30]: 27)
Ayat ini adalah pengingat agung akan kepastian hari kebangkitan dan kebesaran mutlak Allah yang melampaui segala hukum alam. Jika menciptakan manusia dari ketiadaan saja sudah membuktikan kuasa-Nya yang tak terbatas, maka menghidupkan kembali mereka yang telah hancur menjadi debu justru jauh lebih mudah bagi-Nya. Kesadaran ini seharusnya mengikis keraguan kita terhadap janji Allah, menyadarkan kita akan kelemahan diri, dan menumbuhkan kekhusyukan, karena Dialah Yang Mahaperkasa (Al-‘Aziz) yang tidak ada satu pun yang mampu menentang kehendak-Nya.
Segala sifat kesempurnaan (Al-Matsal Al-A’la) hanya milik Allah di seluruh penjuru alam semesta, tanpa ada tandingan sedikit pun. Kekuatan-Nya yang Mahaperkasa selalu berpadu dengan kebijaksanaan-Nya yang Mahabijaksana (Al-Hakim), yang berarti setiap takdir, ujian, dan kejadian di langit maupun bumi pasti memiliki hikmah yang mendalam dan tepat sasaran. Maka, kita dituntut untuk bersandar hanya kepada-Nya, meyakini bahwa hidup ini tidak berjalan secara acak, serta menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta yang Maha Sempurna dan Maha Mengatur.[]

Saat ini belum ada komentar