Beranda » Tadabbur » Waspada Berdusta Atas Nama Agama

Waspada Berdusta Atas Nama Agama

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِـَٔايَـٰتِهِۦٓ ۗ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ٢١

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS. al-An’am: 21)

 

Ayat ini mengingatkan bahwa kezaliman yang paling berat bukan sekadar menyakiti orang lain, tetapi berani membuat-buat kebohongan atas nama Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya. Artinya, seorang Muslim harus sangat berhati-hati ketika berbicara tentang agama: tidak boleh mengatasnamakan Allah sesuatu yang tidak memiliki dasar, apalagi menolak kebenaran yang telah datang dari-Nya. Seorang Muslim tidak boleh menetapkan halal dan haram kecuali berdasarkan apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah, serta wajib terikat dengan hukum yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Karena itu, ayat ini seharusnya menumbuhkan rasa takut sekaligus sikap tawadhu dalam menerima kebenaran. Jangan sampai hawa nafsu, kepentingan, atau keinginan menyesuaikan agama dengan keadaan justru membuat seseorang memalingkan makna Islam dari kandungan nash-nash syara’. Ketika Islam ditakwilkan agar sesuai dengan berbagai aliran, gagasan, atau ideologi yang bertentangan dengan hukum dan pandangan hidup Islam, pemahaman terhadap Islam menjadi menyimpang. Maka penutup ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung,” menjadi peringatan agar kita tidak menjadikan agama mengikuti keinginan kita, tetapi berusaha menundukkan diri kepada kebenaran yang datang dari Allah.[]

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Post Lainnya

  • 10 Pilar Mutu Metode UMMI

    10 Pilar Mutu Metode UMMI

    • Sabtu, 8 Agustus 2026

      Goodwill Manajemen — Kesediaan, dukungan dan perhatian dari pimpinan lembaga atau pengelola terhadap pembelajaran Al-Qur’an. Sertifikasi Guru —  Semua guru sudah lulus tashih dan mengikuti pelatihan metodologi dan manajemen pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an Metode UMMI. Waktu Memadai — Waktu yang dibutuhkan minimal 4-5 kali seminggu dan setiap pertemuannya 60-70 menit serta akan semakin sempurna hasilnya jika ada tambahan […]

    Selengkapnya »
  • Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Penggunaan Metode UMMI

    Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Penggunaan Metode UMMI

    • Kamis, 6 Agustus 2026

    Sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang bermutu dan berstandar nasional, Halaqah Quran melaksanakan kegiatan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Penggunaan Sistem Pembelajaran Al-Qur’an Metode UMMI bersama UMMI Bandung Raya. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama penggunaan Sistem Pembelajaran Al-Qur’an Metode UMMI sebagaimana tertuang dalam dokumen Nota Kesepahaman. Acara berlangsung pada […]

    Selengkapnya »
  • Saat Amal Lebih Berharga daripada Segalanya

    Saat Amal Lebih Berharga daripada Segalanya

    • Kamis, 6 Agustus 2026

    فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ “Adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qāri’ah: 6–9) Ibrah Pada hari kiamat, Allah tidak akan menanyakan seberapa banyak […]

    Selengkapnya »
  • Harta dan Kedudukan Bisa Menjadi Fitnah

    Harta dan Kedudukan Bisa Menjadi Fitnah

    • Jumat, 7 Agustus 2026

    تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ۝ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ۝ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ۝ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ۝ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh binasalah dia. Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. […]

    Selengkapnya »
  • Berinfak Sebelum Kematian Datang

    Berinfak Sebelum Kematian Datang

    • Jumat, 18 September 2026

    وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَـٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ ١٠ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, […]

    Selengkapnya »
  • Ketika Al-Qur’an menjadi Mahjūr

    Ketika Al-Qur’an menjadi Mahjūr

    • Senin, 3 Agustus 2026

    Allah berfirman: وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’” (QS. Al-Furqan: 30) Renungkan… Al-Qur’an tidak hanya menjadi mahjūr ketika tidak dibaca. Ia juga menjadi mahjūr ketika dibaca tetapi tidak dipahami, dipahami tetapi tidak diamalkan, atau tidak dijadikan […]

    Selengkapnya »