Harta dan Kedudukan Bisa Menjadi Fitnah

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh binasalah dia. Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” (QS. Al-Lahab: 1–5)
Ibrah
Abu Lahab adalah paman Rasulullah ﷺ. Ia memiliki harta, kedudukan, dan hubungan keluarga dengan Nabi. Namun semua itu tidak menyelamatkannya ketika ia memilih menolak kebenaran dan memusuhi dakwah Islam.
Surah ini mengingatkan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari nasab, harta, atau jabatan, tetapi dari iman dan ketaatan. Harta yang tidak digunakan untuk taat kepada Allah hanya akan menjadi penyesalan.
Jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat kita lalai dari Al-Qur’an. Sebab yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah harta, melainkan iman dan amal saleh.
Doa
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ نُورَ قُلُوبِنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ حَتَّى نَلْقَاكَ.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jadikan Al-Qur’an cahaya hati kami, teguhkan kami di atas iman dan ketaatan hingga kami bertemu dengan-Mu. Aamiin.”

Saat ini belum ada komentar