Jangan Remehkan Kebaikan, Jangan Anggap Enteng Keburukan

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ خَيْرٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى ٱلَّذِينَ عَمِلُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٨٤
“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-Qashash [28]: 84)
***
Sebaliknya, keburukan memiliki konsekuensi dan tidak sepatutnya dianggap remeh. Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mengerjakan kejahatan tidak dibalas kecuali sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Peringatan ini mengajak kita untuk berhati-hati dalam bertindak, berbicara, dan mengambil keputusan. Jangan sampai kita begitu bersemangat mengejar pahala, tetapi pada saat yang sama mudah menyakiti hati orang lain, mengabaikan amanah, atau meremehkan kesalahan kecil.
Ayat ini menumbuhkan keseimbangan dalam diri seorang Mukmin: berharap besar pada kemurahan Allah ketika berbuat baik, sekaligus waspada terhadap akibat keburukan yang dilakukan.
Muhasabah
Sudahkah kita membiasakan diri melakukan kebaikan meskipun tidak dilihat atau dipuji manusia? Apakah kita masih menunda berbuat baik karena merasa amal kita terlalu kecil? Sebaliknya, pernahkah kita meremehkan kesalahan dengan alasan bahwa itu hanya perkara sepele, padahal perbuatan tersebut mungkin menyakiti orang lain?
Mari memperbanyak amal baik, menjaga niat agar tetap ikhlas, dan segera memperbaiki kesalahan ketika menyadarinya. Jangan merasa terlalu kecil untuk berbuat baik dan jangan merasa terlalu aman untuk berbuat buruk. Setiap kebaikan layak diperjuangkan, dan setiap keburukan patut diwaspadai.[]

Saat ini belum ada komentar