Jangan Mengikuti Tradisi tanpa Menimbang Wahyu

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ٢١
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah!’ Mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman [31]: 21)
***
Seorang Muslim tidak boleh menjadikan kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang sebagai ukuran kebenaran secara otomatis. Ketika manusia diajak untuk mengikuti apa yang Allah turunkan, sebagian justru memilih mengikuti apa yang telah mereka temukan dari orang-orang terdahulu. Padahal, ukuran seorang Muslim dalam menjalani kehidupan adalah apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Kewajiban kita adalah hanya mengambil hukum-hukum yang dibawa Rasulullah ﷺ dan tidak mengambil hukum dari selainnya.
Tradisi atau kebiasaan tidak menjadi benar hanya karena sudah dilakukan sejak dahulu. Yang perlu diperhatikan adalah apakah ia sesuai dengan petunjuk Allah atau tidak. Seorang Muslim wajib terikat dengan hukum syara’ dalam perbuatannya; ia tidak boleh menetapkan halal dan haram berdasarkan keinginan atau kebiasaan, tetapi harus mengetahui hukum Allah atas perbuatan tersebut. Bahwa mengikuti kebiasaan tanpa mempertimbangkan petunjuk Allah dapat menyeret manusia mengikuti jalan yang keliru.
Muhasabah
Ketika kita melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan keluarga atau masyarakat, pernahkah kita bertanya, “Apakah ini benar-benar sesuai dengan petunjuk Allah?” Atau kita hanya menjawab, “Memang dari dulu begini,”? Mari kita belajar untuk tidak menjadikan kebiasaan sebagai ukuran kebenaran. Peganglah petunjuk Allah dan Rasul-Nya sebagai standar, lalu periksa kembali kebiasaan kita dengan standar tersebut.[]

Saat ini belum ada komentar