Bertawakallah kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧
“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,” (QS. asy-Syu’ara’ [26]: 217)
***
Kita diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Tawakal berarti menyandarkan harapan dan menyerahkan urusan kepada Allah, bukan menjadikan manusia atau keadaan sebagai satu-satunya tempat bergantung. Allah memiliki kekuasaan yang sempurna, sehingga tidak ada sesuatu pun yang mampu melemahkan-Nya. Pada saat yang sama, Allah Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Dua sifat ini mengingatkan kita agar tidak mudah takut menghadapi kesulitan dan tidak berputus asa ketika keadaan belum sesuai dengan harapan.
Tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha atau mengabaikan kewajiban. Seorang Muslim tetap berusaha menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, sambil menyandarkan hasil akhirnya kepada Allah. Ketika menghadapi tantangan dalam kehidupan atau saat berusaha menyampaikan kebaikan, jangan sampai rasa takut terhadap penilaian manusia membuat kita meninggalkan ketaatan. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, tetaplah berada di jalan yang benar, dan serahkan hasilnya kepada Allah.
Muhasabah
Ketika menghadapi masalah, kepada siapa hati kita paling banyak bergantung? Apakah kita mudah cemas karena terlalu memikirkan penilaian manusia dan melupakan kekuasaan Allah? Apakah kita tetap menjalankan kewajiban meskipun hasilnya belum terlihat? Mari kita periksa kembali tawakal kita. Jangan hanya mengaku percaya kepada Allah ketika keadaan mudah; buktikan tawakal dengan tetap taat, bersungguh-sungguh dalam usaha, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.[]

Saat ini belum ada komentar