Beranda » Tadabbur » Allah Mampu Menghidupkan Kembali

Allah Mampu Menghidupkan Kembali

يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَيُحْىِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ ١٩

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi setelah mati (kering). Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).” (QS. ar-Rum [30]: 19)

 

Ayat ini mengajak kita merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat disaksikan dalam kehidupan. Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi yang sebelumnya mati dengan kekeringan. Sesuatu yang tampak tidak bernyawa dapat kembali menjadi kehidupan atas kehendak-Nya. Gambaran ini mengarahkan hati kita kepada satu kenyataan besar: kebangkitan manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Dalam Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, iman kepada Hari Kiamat dijelaskan mencakup keimanan kepada kebangkitan, yaitu Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati setelah kehidupan dunia berakhir.

Kalimat penutup ayat, “وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ — dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan,” seakan mengubah perenungan tentang alam menjadi perenungan tentang diri sendiri. Kita yang hari ini hidup, bergerak, merencanakan masa depan, pada waktunya akan kembali kepada Allah, lalu dibangkitkan dari kubur. Kesadaran akan kebangkitan seharusnya membuat hidup tidak dijalani secara lalai, karena kehidupan dunia bukan akhir dari perjalanan manusia. Iman terhadap adanya Hari Akhir adalah bagian dari perkara yang wajib diyakini dalam akidah Islam.

Maka, ayat ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: jika Allah mampu menghidupkan bumi setelah kematiannya, apa alasan kita meragukan kebangkitan kita kelak? Yang perlu dipersiapkan bukan hanya bagaimana menjalani kehidupan hari ini, tetapi bagaimana kita akan keluar dari kubur dan menghadap Allah.[]

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Post Lainnya

  • Ketika Al-Qur’an menjadi Mahjūr

    Ketika Al-Qur’an menjadi Mahjūr

    • Senin, 3 Agustus 2026

    Allah berfirman: وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’” (QS. Al-Furqan: 30) Renungkan… Al-Qur’an tidak hanya menjadi mahjūr ketika tidak dibaca. Ia juga menjadi mahjūr ketika dibaca tetapi tidak dipahami, dipahami tetapi tidak diamalkan, atau tidak dijadikan […]

    Selengkapnya »
  • Saat Amal Lebih Berharga daripada Segalanya

    Saat Amal Lebih Berharga daripada Segalanya

    • Kamis, 6 Agustus 2026

    فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ “Adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qāri’ah: 6–9) Ibrah Pada hari kiamat, Allah tidak akan menanyakan seberapa banyak […]

    Selengkapnya »
  • Harta dan Kedudukan Bisa Menjadi Fitnah

    Harta dan Kedudukan Bisa Menjadi Fitnah

    • Jumat, 7 Agustus 2026

    تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ۝ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ۝ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ۝ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ۝ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh binasalah dia. Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. […]

    Selengkapnya »
  • Jangan Menganggap Rezeki Sempit sebagai Kehinaan

    Jangan Menganggap Rezeki Sempit sebagai Kehinaan

    • Jumat, 11 September 2026

    وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ ١٦ “Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’” (QS. al-Fajr [89]: 16) *** Manusia sering keliru dalam menilai keadaan hidup. Ketika mendapatkan kelapangan rezeki, seseorang bisa menganggap dirinya dimuliakan; sebaliknya, ketika rezekinya dibatasi, ia berkata, “Tuhanku telah menghinakanku.” Padahal, […]

    Selengkapnya »
  • Jangan Tertipu oleh Gemerlap Dunia

    Jangan Tertipu oleh Gemerlap Dunia

    • Kamis, 20 Agustus 2026

    ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara […]

    Selengkapnya »
  • Waspada Berdusta Atas Nama Agama

    Waspada Berdusta Atas Nama Agama

    • Selasa, 18 Agustus 2026

    وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِـَٔايَـٰتِهِۦٓ ۗ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ٢١ “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS. al-An’am: 21)   Ayat ini mengingatkan bahwa kezaliman yang paling berat bukan sekadar menyakiti […]

    Selengkapnya »