Jangan Mendustakan Pertemuan dengan Akhirat

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا وَلِقَآئِ ٱلْـَٔاخِرَةِ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ فِى ٱلْعَذَابِ مُحْضَرُونَ ١٦
“Dan adapun orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami serta (mendustakan) pertemuan hari akhirat, maka mereka tetap berada dalam azab (neraka).” (QS. ar-Rum [30]: 16)
Ada akibat yang sangat berat bagi orang-orang yang memilih kekufuran, mendustakan ayat-ayat Allah, dan mengingkari pertemuan dengan kehidupan akhirat. Keimanan kepada Hari Akhir bukan sekadar pengetahuan, tetapi keyakinan yang semestinya membentuk cara manusia memandang kehidupan dan menentukan sikapnya. Iman kepada Hari Kiamat termasuk bagian dari pembahasan akidah Islam yang harus diyakini.
Ayat ini menjadi peringatan agar kita tidak memperlakukan ayat-ayat Allah sesuai keinginan kita. Ketika seseorang benar-benar meyakini bahwa dirinya akan kembali kepada Allah, seharusnya ia berusaha menerima dan terikat dengan hukum yang dibawa Rasulullah ﷺ. Seorang Muslim wajib mengambil apa yang dibawa Rasul dan meninggalkan apa yang beliau larang, serta menjadikan hukum Allah dan Rasul-Nya sebagai rujukan ketika terjadi perselisihan.
Maka, ayat ini layak menjadi bahan muhasabah: apakah keyakinan kepada akhirat sudah benar-benar memengaruhi pilihan hidup kita? Mendustakan akhirat membawa manusia kepada sikap hidup yang mengabaikan pertanggungjawaban, sedangkan kesadaran akan pertemuan dengan Allah semestinya mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam setiap amal. Kehidupan dunia bukan tempat untuk bebas tanpa pertanggungjawaban; ada kehidupan akhirat yang menanti, dan di sanalah setiap manusia akan menghadapi konsekuensi dari apa yang ia pilih di dunia.[]

Saat ini belum ada komentar