Untuk Siapa Sebenarnya Hidup Kita?

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.'” (QS. al-An’am [6]: 162)
Penghambaan kepada Allah tidak boleh berhenti pada ritual semata. Salat dan ibadah kita harus benar-benar diarahkan hanya kepada Allah, karena Dia adalah Rabbul ‘alamin, Tuhan seluruh alam. Bahkan hidup dan mati pun dinyatakan untuk Allah. Artinya, seorang Muslim tidak menjadikan kehidupannya berjalan tanpa arah, mengikuti hawa nafsu atau sekadar mengejar kepentingan dunia, tetapi menundukkan seluruh aktivitasnya kepada apa yang Allah kehendaki. Seorang Muslim, dalam seluruh aktivitas hidupnya wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah.
Maka ayat ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa sebenarnya hidup kita ini? Jika salat kita untuk Allah, ibadah kita untuk Allah, maka sudahkah pilihan, pekerjaan, waktu, pikiran, dan seluruh perjalanan hidup kita diarahkan untuk meraih rida-Nya? Islam memandang kebahagiaan bukan sekadar memperoleh kenikmatan jasmani, tetapi meraih rida Allah, dengan mengatur pemenuhan kebutuhan manusia berdasarkan hukum-hukum syara’. Ayat ini akhirnya menanamkan kesadaran yang dalam: hidup bukan milik kita untuk dijalani sesuka hati; hidup adalah amanah dari Allah yang kelak akan kembali kepada-Nya.[]

Saat ini belum ada komentar