Beranda » Tadabbur » Jangan Remehkan Kebaikan, Jangan Anggap Enteng Keburukan

Jangan Remehkan Kebaikan, Jangan Anggap Enteng Keburukan

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ خَيْرٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى ٱلَّذِينَ عَمِلُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٨٤

“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-Qashash [28]: 84)

***

Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak akan sia-sia di sisi Allah. Bahkan, Allah menjanjikan balasan yang lebih baik daripada kebaikan yang kita bawa. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk terus berbuat baik, sekalipun kebaikan itu tampak kecil di mata manusia atau tidak mendapatkan pujian dari siapa pun. Senyuman, perkataan yang menenangkan, membantu orang lain, menjaga amanah, hingga menahan diri dari menyakiti sesama, semuanya layak menjadi bagian dari amal kebaikan. Karena itu, jangan menunda kebaikan hanya karena merasa belum mampu melakukan sesuatu yang besar. Bisa jadi, amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas justru menjadi sebab datangnya kebaikan yang berlipat dari Allah.

Sebaliknya, keburukan memiliki konsekuensi dan tidak sepatutnya dianggap remeh. Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mengerjakan kejahatan tidak dibalas kecuali sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Peringatan ini mengajak kita untuk berhati-hati dalam bertindak, berbicara, dan mengambil keputusan. Jangan sampai kita begitu bersemangat mengejar pahala, tetapi pada saat yang sama mudah menyakiti hati orang lain, mengabaikan amanah, atau meremehkan kesalahan kecil.

Ayat ini menumbuhkan keseimbangan dalam diri seorang Mukmin: berharap besar pada kemurahan Allah ketika berbuat baik, sekaligus waspada terhadap akibat keburukan yang dilakukan.

Muhasabah

Sudahkah kita membiasakan diri melakukan kebaikan meskipun tidak dilihat atau dipuji manusia? Apakah kita masih menunda berbuat baik karena merasa amal kita terlalu kecil? Sebaliknya, pernahkah kita meremehkan kesalahan dengan alasan bahwa itu hanya perkara sepele, padahal perbuatan tersebut mungkin menyakiti orang lain?

Mari memperbanyak amal baik, menjaga niat agar tetap ikhlas, dan segera memperbaiki kesalahan ketika menyadarinya. Jangan merasa terlalu kecil untuk berbuat baik dan jangan merasa terlalu aman untuk berbuat buruk. Setiap kebaikan layak diperjuangkan, dan setiap keburukan patut diwaspadai.[]

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Post Lainnya

  • Saat Amal Lebih Berharga daripada Segalanya

    Saat Amal Lebih Berharga daripada Segalanya

    • Kamis, 6 Agustus 2026

    فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ “Adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah.” (QS. Al-Qāri’ah: 6–9) Ibrah Pada hari kiamat, Allah tidak akan menanyakan seberapa banyak […]

    Selengkapnya »
  • 7 Tahapan Pembelajaran Metode UMMI

    7 Tahapan Pembelajaran Metode UMMI

    • Sabtu, 8 Agustus 2026

    Pembukaan — Kegiatan pengondisian para siswa untuk siap belajar, dilanjutkan dengan salam pembuka dan membaca do’a pembuka belajar Al-Qur’an bersama sama. Apersepsi —  Mengulang kembali misteri yang telah diajarkan sebelumnya untuk dapat dikaitkan dengan materi yang akan diajarkan pada hari ini. Penanaman Konsep —  Proses menjelaskan materi/pokok bahasan yang akan diajarkan pada hari ini. Pemahaman Konsep — Memahamkan kepada […]

    Selengkapnya »
  • Jangan Mengikuti Tradisi tanpa Menimbang Wahyu

    Jangan Mengikuti Tradisi tanpa Menimbang Wahyu

    • Kamis, 8 Oktober 2026

    وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ٢١ “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah!’ Mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) […]

    Selengkapnya »
  • Waspada Berdusta Atas Nama Agama

    Waspada Berdusta Atas Nama Agama

    • Selasa, 18 Agustus 2026

    وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِـَٔايَـٰتِهِۦٓ ۗ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ٢١ “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS. al-An’am: 21)   Ayat ini mengingatkan bahwa kezaliman yang paling berat bukan sekadar menyakiti […]

    Selengkapnya »
  • Kepastian Kebangkitan dan Kesempurnaan Sifat Allah

    Kepastian Kebangkitan dan Kesempurnaan Sifat Allah

    • Minggu, 23 Agustus 2026

    وَهُوَ ٱلَّذِى يَبْدَؤُا۟ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ٢٧ “Dan Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat Yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. ar-Rum [30]: 27)   Ayat […]

    Selengkapnya »
  • Jangan Tertipu oleh Gemerlap Dunia

    Jangan Tertipu oleh Gemerlap Dunia

    • Kamis, 20 Agustus 2026

    ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara […]

    Selengkapnya »