Masuk Islam Secara Menyeluruh

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ ٢٠٨
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah [2]: 208)
***
Orang-orang beriman sudah sepatutnya tidak mengambil Islam secara sebagian-sebagian, tetapi masuk ke dalamnya secara menyeluruh. Syariat Islam telah mencakup seluruh perbuatan manusia secara sempurna dan menyeluruh. Seorang Muslim tidak dibenarkan menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran, melainkan wajib mengikatkan dirinya dengan hukum syara’ dalam seluruh perbuatannya.
Allah juga mengingatkan agar jangan mengikuti langkah-langkah setan. Ini menunjukkan bahwa penyimpangan tidak selalu terjadi sekaligus, tetapi dapat dimulai ketika seseorang mulai mengambil sebagian ajaran Islam dan meninggalkan sebagian lainnya. Dalam kehidupan, halal dan haram—yakni perintah dan larangan Allah—menjadi tolok ukur perbuatan: yang halal dikerjakan dan yang haram ditinggalkan.
Tadabburnya, iman tidak cukup hanya menjadi pengakuan, tetapi harus terlihat dalam keterikatan kita kepada petunjuk Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Maka kita perlu bermuhasabah: apakah kita menerima Islam secara menyeluruh, atau hanya mengambil bagian yang sesuai dengan keinginan kita? Semakin kuat keterikatan kepada syariat, semakin kita berhati-hati agar tidak membuka jalan bagi langkah-langkah yang membawa kita menjauh dari petunjuk Allah.[]

Saat ini belum ada komentar