Al-Qur’an Bukan untuk Menyusahkan

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ ٢
“Kami tidak menurunkan Al-Qur`ān ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah,” (QS. Thaha [20]: 2)
Al-Qur’an tidak diturunkan untuk menjadikan manusia berada dalam kesusahan, tetapi sebagai petunjuk bagi kehidupan. Al-Qur’an merupakan petunjuk dan bahwa Syariat Islam mencakup berbagai perbuatan manusia secara sempurna. Karena itu, Al-Qur’an semestinya dipahami sebagai pedoman yang mengarahkan manusia kepada jalan yang benar, bukan sesuatu yang diperlakukan sebagai beban yang boleh ditinggalkan ketika bertentangan dengan keinginan atau hawa nafsu.
Jangan sampai kita memandang ketaatan kepada Al-Qur’an sebagai sumber kesempitan, sementara kehidupan tanpa petunjuk Allah dianggap lebih mudah. Justru manusia membutuhkan petunjuk agar kehidupannya berjalan sesuai dengan ketentuan Allah. Kaum Muslim wajib mengambil apa yang dibawa Rasulullah dan meninggalkan apa yang dilarang beliau. Maka ketika Al-Qur’an memberikan perintah dan larangan, sikap seorang Muslim bukan mencari jalan untuk menghindarinya, tetapi menerimanya sebagai petunjuk dari Allah.
Ayat ini mengajak kita mengubah cara pandang: jangan bertanya bagaimana agar Al-Qur’an menyesuaikan kehidupan kita, tetapi bagaimana kehidupan kita menyesuaikan diri dengan petunjuk Al-Qur’an. Jika kita menjadikan wahyu sebagai pedoman, maka setiap perintah dan larangan memiliki tempat dalam mengarahkan kehidupan kepada jalan yang benar.[]

Saat ini belum ada komentar