Bersabar Ketika Mendapat Musibah

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. al-Baqarah [2]: 156)
***
Ayat ini mengajarkan sikap seorang mukmin ketika mendapatkan musibah: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” — sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Kalimat ini mengingatkan bahwa kehidupan dan apa yang kita miliki berada dalam ketentuan Allah. Karena itu, ketika sesuatu yang kita cintai hilang atau kita mengalami kesulitan, seorang Muslim tidak seharusnya larut dalam keputusasaan, tetapi menyadari bahwa semuanya akan kembali kepada Allah.
Musibah juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan kesabaran. Sabar merupakan sikap yang harus dimiliki ketika menghadapi ujian. Kesabaran adalah sesuatu yang Allah berikan sebagai kebaikan yang luas bagi seorang hamba. Maka, kalimat “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” bukan sekadar ucapan ketika berduka, tetapi pengingat agar hati tetap bersandar kepada Allah ketika menghadapi musibah.
Muhasabah
Ketika kehilangan sesuatu yang kita cintai atau menghadapi masalah, bagaimana sikap kita? Apakah kita langsung menyalahkan keadaan, mengeluh, dan berputus asa, atau segera mengingat bahwa kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya? Mari kita latih diri untuk bersabar ketika musibah datang. Semoga setiap ujian membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan justru semakin jauh dari-Nya.[]

Saat ini belum ada komentar