Jangan Lupa Bersyukur atas Nikmat Allah

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ٣٤
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14]: 34)
***
Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Bahkan Allah menyatakan bahwa jika kita mencoba menghitung nikmat-Nya, kita tidak akan mampu menghitung semuanya. Rezeki, kesehatan, keluarga, ilmu, waktu, dan berbagai hal yang kita nikmati dalam kehidupan adalah karunia dari Allah. Namun manusia sering kali justru lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada menyadari begitu banyak nikmat yang sudah diberikan kepadanya.
Karena itu, ayat ini juga menjadi peringatan agar kita tidak menjadi “zhalūm” dan “kaffār”, yaitu manusia yang tidak menempatkan nikmat sebagaimana mestinya dan mengingkari nikmat Allah. Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya sesuai dengan ketentuan-Nya. Manusia wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah dalam seluruh aktivitas kehidupannya.
Muhasabah
Sudahkah kita benar-benar menyadari nikmat Allah yang ada pada diri kita? Ataukah kita lebih sering mengeluh karena sesuatu yang belum kita miliki? Ketika Allah memberikan harta, ilmu, kesehatan, waktu, dan kemampuan, untuk apa semua itu kita gunakan? Mari belajar menghitung nikmat bukan untuk mengetahui jumlahnya, tetapi agar hati semakin bersyukur dan kehidupan kita semakin taat kepada Allah.[]

Saat ini belum ada komentar