Sanad Qiro'at `Ashim Riwayat Hafsh Thoriq Syathibi

الله رب العالمين

-آمين الوحي- جبريل عليه السلام
النّبيّ صلّى الله عليه و سلّم
Thabaqat Nama

Tahun Lahir -(Hidup)- Wafat

Biografi
1 (shahabat)
`Ali bin Abi Thalib
w. 40 H Khalifah Ar-Rasyidah, kunci ilmu Rasulullah. Beliau pernah mengatakan, "Taqwa adalah rasa takut kepada Yang Maha Luhur; mengamalkan Al-Qur'an; rela (qana`ah) atas pemberian-Nya; dan mempersiapkan bekal untuk hari akhir." Dari `Ashim bin Dhamrah, dari Ali berkata, "Ketahuilah sesungguhnya orang faqih adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari adzab-Nya dan tidak terlalu memudahkan mereka untuk bermaksiat kepada-Nya serta tidak meninggalkan Al-Qur'an karena benci dengan mencari selain Al-Qur'an. Tidak ada kebaikan di dalam ibadah yang tidak disertai dengan ilmu. Tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak disertai dengan pemahaman dan tidak ada kebaikan di dalam membaca yang tidak disertai dengan tadabbur." Riwayat hidup beliau sudah banyak diulas, dapat dirujuk pada berbagai buku sejarah dan biografi
2 (tabi`in)
`Abdullah bin Habib As-Sulami
w. 74 H Beliau adalah orang yang pertama kali mengajarkan Al-Qur'an di Kufah setelah Khalifah `Utsman bin `Affan mengirimkan kopi mushhaf ke kawasan tersebut. Mengajar Al-Qur'an di masjid jami` selama empat puluh tahun. Beliau meriwayatkan hadits "Khayrukum man ta`allama Al-Qur’an wa `allamahu." Begitu mendengar hadits tersebut, beliau serta-merta menjadikannya sebagai prinsip hidupnya dengan berkata, "Itulah yang membuatku duduk di tempat dudukku sekarang ini (majelis pengajaran Al-Qur’an)." Satu ketika muridnya memberikan kuda kepada beliau, kemudian beliau menjawab dengan syarat: jika kuda tersebut disiapkan sang murid sebelum belajar Al-Qur’an sebagai sekadar hadiah, maka diterimanya; namun jika kuda tersebut sebagai imbalan setelah belajar Al-Qur’an, maka ditolaknya
3 (tabi`ut tabi`in)
`Ashim bin Abi An-Najud Al-Asadi Al-Kufi
w. 127 H Muridnya, Syu`bah, pernah bercerita, "`Ashim pernah berkata kepadaku, 'Aku telah menderita sakit selama dua tahun. Setelah sembuh, aku kembali membaca Al-Qur'an. Ternyata aku tidak melakukan kesalahan bacaan sekalipun hanya satu huruf." Syu`bah juga mengatakan bahwa Imam `Ashim menyuruhnya membaca satu hingga lima ayat Al-Qur'an saja dalam sehari, supaya bacaannya benar-benar dikuasai. `Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dikabarkan pernah bertanya kepada ayahnya mengenai Imam `Ashim. Maka Ahmad bin Hanbal menjawab bahwa `Ashim bin Bahdalah adalah seorang laki-laki shalih yang tsiqah. Lalu `Abdullah bertanya kepada ayahnya tentang qiro'at apa yang paling beliau sukai. Imam Ahmad menjawab bahwa ia sangat menyukai qiro'at penduduk Madinah (Imam Nafi`); namun kalau tidak ada, maka qiro'at yang paling beliau sukai adalah Qiro'at `Ashim. Di akhir hayatnya, Imam `Ashim membaca ayat "ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ" (Kemudian mereka kembali kepada Allah, pelindung yang haqiqi)
4
Hafsh bin Sulaiman Al-Bazzaz Al-Kufi
90 - 180 H Beliau adalah putera tiri Imam `Ashim, sehingga kualitas riwayatnya dari sang imam amat tinggi. Imam `Ashim pernah menegaskan bahwa tidak ada satupun perbedaan antara riwayat yang disampaikan kepada Hafsh dengan pelajaran yang telah diperoleh dari Abu `Abdurrahman; begitu juga bahwa riwayat yang disampaikan oleh Abu `Abdurrahman tidak ada satu pun yang berbeda dengan pelajaran yang telah diterima dari `Ali bin Abi Thalib. Imam Hafsh juga pernah menjabat sebagai hakim agung (qadhi) di kawasan Kufah. Imam Asy-Syathibi menulis tentang Imam Hafsh, "Dan Hafsh yang memiliki keutamaan karena kesempurnaan bacaannya.".
5
`Ubaid bin Ash-Shabbah An-Nahsyali Al-Kufi
w. 235 H Muridnya, Al-Usynani, berkata, "Tidak pernah kuketahui seorang wara` dan taqwa seperti `Ubaid." Abu `Amr Ad-Dani berkata, "`Ubaid adalah murid terbaik Imam Hafsh."
6
Ahmad bin Sahl Al-Usynani
w. 305 H Tsiqah, dhabith, muqri' mujawwad, syaikhul qurra' Baghdad. Selain sebagai perawi Al-Qur'an, beliau juga dipercaya sebagai perawi hadits. Menghabiskan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah.
7
`Ali bin Muhammad bin Shalih Al-Hasyimi
w. 367 H Seorang muqri' tunanetra, syaikhul qurra' daerah Bashrah. Masyhur, arif, dan tsiqah.
8
Thahir bin Ghalbun
w. 399 H Pembesar muqri'in. Belajar Al-Qur'an kepada banyak guru, diantaranya ayahnya sendiri. Tumbuh di rumah keluarga yang penuh ilmu. Salah seorang muridnya, Imam Ad-Dani, berkata, "Tidak pernah kulihat dimasanya seorang yang seperti beliau dalam pemahaman, ilmu, dan keutamaan."
9
`Utsman bin Sa`id Ad-Dani
371 - 444 H Cukuplah deskripsi yang disematkan oleh para ahli sejarah terhadap beliau: Al-Imam Syaikhul Islam Al-`Allamah Al-Hafidz Ustadzul-ustadzin Syaikhu-masyayikh Al-Muqri'in. Beliau diasuh oleh ayahnya yang mengkondisikan rumah tangganya penuh nuansa religius dan keilmuan. Didukung lagi dengan situasi Kota Cordoba ketika itu yang merupakan pusat ilmu dan peradabaan dunia. Hafal Al-Qur'an pada usia 14 tahun. Menginjak usia 26 tahun melakukan perjalanan menuntut ilmu menuju belahan timur sampai ke Tunisia, Mesir, dan Makkah. Beliau pernah berkata, "Tidaklah aku melihat suatu pelajaran kecuali kutulis; tidaklah kutulis sesuatu kecuali aku hafalkan; dan sesuatu yang kuhafal tidak pernah terlupa."
10
Sulaiman bin Najah
413 - 496 H Beliau adalah maula (mantan budak yang dimerdekakan) seorang Amirul Mukminin dinasti Umawi di Andalus. Penulis yang produktif, muridnya mengatakan bahwa ada salah satu judul kitab yang ditulis oleh Syaikh berjumlah 300 jilid.
11
`Ali bin Hudzail Al-Andalusi
470 - 564 H Belajar Al-Qur'an secara intens kepada Sulaiman bin Najah, yang merupakan ayah tiri beliau. Siang dan malam banyak meluangkan waktu untuk ber-mulazamah dengan murid-muridnya. Dikenal amat dermawan terhadap janda serta anak yatim. Pernah istri beliau protes karena begitu besarnya perhatian `Ali bin Hudzail kepada kaum dhu`afa, sementara kebutuhan keluarganya tidak mencukupi.
12
Al-Qasim bin Firruh Asy-Syathibi
538 - 590 H Baca selengkapnya >>
13
`Ali bin Syuja` Al-`Abbasi
572 - 661 H Beliau adalah murid sekaligus menantu Imam Asy-Syathibi. Telah membaca qiro'at sab`ah (kecuali Riwayat Abul Harits) kepada Asy-Syathibi sebanyak 19 kali khatam kemudian membaca secara jama` 14 riwayat, namun hanya sampai Surat Al-Ahqaf karena wafatnya Imam Asy-Syathibi.
14
Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad Ash-Sha'igh Al-Mishri
636 - 725 H Membaca Al-Qur'an di hadapan Syaikh `Ali bin Syuja` sebanyak sembilan kali: delapan kali secara ifrad, kemudian yang ke-sembilan secara jama`. Mengumpulkan qiro'at dengan panduan kitab Al-`Unwan, At-Taisir, Asy-Syathibiyyah, dan lain-lain. Beliau menjadi pengajar Al-Qur'an di Madrasah Ath-Thibrisiyyah, Mesir, dengan waktu mengajar siang-malam. Salah seorang muridnya, Ibnu Mu'min, berkata, "Aku membaca qiro'at di hadapan Ash-Sha'igh dengan penduan beberapa kitab selama 17 hari dengan suara yang bagus serta bacaan yang baik." Dikisahkan bahwa suatu ketika Syaikh Ash-Sha'igh membaca Al-Qur'an dalam shalat shubuh ayat "مالي أرى الهدهد", serta-merta di sekeliling tempat shalatnya hinggap burung-burung.
15
`Abdurrahman bin Ahmad Al-Baghdadi
702 - 781 H Penghulu masyayikh qurra' Mesir pada masanya. Berkali-kali datang ke Makkah untuk mengajarkan Al-Qur'an.
16
Muhammad bin Muhammad Ad-Dimasyqi Al-Jazari
751 - 833 H Baca selengkapnya >>
17
Ridhwan Al-`Uqbi
769 - 852 H Al-Muqri' serta penulis produktif di Qahirah, Mesir. Para ahli sejarah mengkategorikan beliau sebagai seorang Al-Mufid, yaitu derajat di antara Al-Muhaddits dan Al-Hafizh. Sepenggal sya'ir yang terkenal dari beliau, "Siapa mengasihi yang dibawah, maka yang diatas akan mengasihinya."
18
Zakariya Al-Anshari Asy-Syafi`i
826 - 926 H Syaikhul Islam, Al-Mujaddid, yang padanya tertuju sanad Al-Qur'an, Kutubus-Sittah (6 kitab hadits), dan fiqh madzhab Syafi`i. Keturunan suku Khazraj dari golongan Anshar. Menempuh tasawwuf , dikabarkan sempat hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan, tinggal di masjid jami` dalam keadaan sering kelaparan dan hanya memakan kulit semangka. Beliau juga menolak untuk diangkat sebagai hakim agung oleh penguasa di masa itu. Ketika sang penguasa terus memaksa beliau, maka tawaran itu baru beliau terima. Di tengah perjalanan menjabat sebagai hakim agung, beliau melihat ada penyimpangan yang dilakukan oleh sang penguasa. Maka dengan tegas beliau mengingatkan dan menegurnya. Namun sang penguasa tidak terima terhadap hal tersebut, sehingga beliau pun diberhentikan dari jabatannya. Semenjak itulah beliau kembali sibuk dengan dunia ilmu sampai menutup lembaran hidupnya
19
Nashiruddin Ath-Thabalawi
w. 966 H Para penulis biografi memberi testimoni atas beliau: Al-Imam Al-`Allamah, lautan ilmu, seorang ulama Mesir yang merupakan sisa generasi salaf yang mulia. `Abdul Wahhab Asy-Sya`rani berkata mengenai Syaikh Thabalawi, "Aku mendampinginya selama 50 tahun. Tidaklah kulihat pada masanya seorang yang paling banyak beribadah darinya. Setiap kujumpai, pasti ia sedang dalam ibadah: membaca Al-Qur'an, shalat, atau mengajarkan ilmu. Padanya bermuara segala ilmu dari generasinya." Seharian mengajarkan Al-Qur'an tanpa menunjukkan raut wajah yang lelah ataupun bosan.
20
Syahadzah Al-Yamani
w. 987 H  
21
`Abdurrahman Al-Yamani
975 - 1050 H  
22
Muhammad Al-Baqari
1018 - 1111 H Syaikh iqra' negeri Mesir. Selain Al-Qur'an, beliau juga mengajarkan riwayat hadits
23
`Ali Ar-Rumaili
h. 1125 H  
24
Isma`il Al-Mahalli Al-Marhumi
-  
25
`Ali Al-Mihi Asy-Syafi`i
1139 - 1204 H  
26
Mushthafa Al-Mihi Asy-Syafi`i
h. 1229 H  
27
Sulaiman Asy-Syahdawi Asy-Syafi`i
-  
28
`Ali Al-Halwan bin Ibrahim As-Samannudi
w. 1295 H  
29
Khalil `Amir Al-Mathubisi
-  
30
Muhammad Sabiq Al-Iskandari
w. 1312 H Salah seorang Imam Qiro’at yang terkenal di Mesir dan Hijaz
31
Sayyid Ahmad bin Hamid At-Tiji
1285 - 1368 H Syaikhul Qurra' Makkah. Nasabnya bersambung sampai Husain bin `Ali bin Abi Thalib. Ber-talaqqi qiro'at sab`ah kepada Syaikh Muhammad Sabiq hingga mendapat ijazah syafahiyyan sebelum wafatnya syaikh sedangkan bacaan baru sampai Surat Al-An`am. Beliau kemudian melanjutkan talaqqi kepada murid dari Syaikh Muhammad Sabiq yang bernama Syaikh `Abdul `Aziz dan mendapat ijazah lisan serta tertulis. Beliau juga menjadi ustadz qiro'at dan tahfizh Madrasah Al-Falah, Makkah. Beliau bersama Imam Masjidil Haram juga pernah men-tashhih dan muroja`ah mushhaf pertama yang dicetak di Arab Saudi
32
Muhammad Siraj Al-Makki
1313 - 1390 H Lahir di Makkah sebagai keturunan Indonesia. Pada usia 13 tahun beliau kembali ke tanah leluhurnya untuk belajar kepada ulama Indonesia. Kemudian beliau kembali ke Makkah untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Belajar riwayat sab`ah di hadapan Syaikh Ahmad At-Tiji hingga memperoleh ijazah untuk mengajarkannya. Di rumah beliau di Qasyasyiyah (dekat Masjidil Haram), beliau menggelar majelis Al-Qur’an serta pengajaran ilmu syar`i untuk para pelajar yang datang dari Indonesia dan Malaysia
33
Muhammad Ashlah Syamil Al-Bantani
w. 1417 H Beliau adalah putera sulung dari seorang ulama terkemuka di Cilegon, Banten, Indonesia. Berangkat ke Makkah untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur'an serta belajar qiro'at. Talaqqi kepada Syaikh Siraj hingga khatam dengan Riwayat Hafsh dan Warsy. Melanjutkan jama` qiro'at sab`ah namun berhenti sampai Surat Yusuf dikarenakan situasi Hijaz berkembang tidak kondusif sehingga para pelajar asing direkomendasikan pulang ke tanah air masing-masing. Mendapat ijazah dari Syaikh Siraj pada 1360H

 

©2012 halaqahquran.com BerandaTentang halaqahquran.com NiatTartilQiro'at